Yogyakarta ~ Rektor Universitas Alma Ata (UAA), Prof. Dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D., Sp.GK., menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan tinggi harus memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran pendidik maupun kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Gemini Academy for Higher Education bersama Google Indonesia dan Paideia Educational Solutions di Auditorium KH. Hasyim Asy’ari, Gedung MAM Lantai 9, Yogyakarta, Senin (19/10/2026). Melalui kegiatan ini, Universitas Alma Ata mendorong penguasaan Gemini AI dalam pembelajaran, penelitian, dan tata kelola perguruan tinggi dengan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan. Upaya tersebut menjadi bagian dari transformasi pendidikan berbasis nilai GREAT menuju World-Class University.
“Gemini AI tidak hadir untuk menggantikan posisi pendidik atau menghilangkan peran berpikir kritis manusia, melainkan untuk melipatgandakan potensi manusia (augmenting human capabilities),” tegas Prof. Hamam.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan tanggung jawab manusia. Dalam konteks pendidikan tinggi, dosen tetap memegang peran penting sebagai mentor etis, inspirator, sekaligus pembentuk karakter kepemimpinan mahasiswa.
Sementara itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir transformatif dan memanfaatkan pengetahuan untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Gemini AI Jadi Akselerator Riset, Pembelajaran, dan Tata Kelola Kampus
Prof. Hamam menjelaskan bahwa pemanfaatan Gemini AI memiliki peran strategis dalam mendukung cita-cita Universitas Alma Ata menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.
Terdapat tiga bidang utama yang menjadi perhatian, yakni penguatan penelitian internasional, pengembangan pembelajaran adaptif, dan peningkatan efisiensi tata kelola perguruan tinggi.
Dalam bidang penelitian, Gemini AI dapat membantu akademisi melakukan sintesis literatur global, menganalisis data yang kompleks, serta mendukung penyusunan publikasi ilmiah bereputasi.
Pada bidang pembelajaran, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan proses pendidikan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa sekaligus memperkuat kompetensi dan wawasan global.
Adapun dalam tata kelola perguruan tinggi, pemanfaatan AI diarahkan untuk meningkatkan efisiensi administrasi sehingga dosen dan tenaga kependidikan memiliki ruang lebih besar untuk berinovasi, mendampingi pembentukan karakter, serta membangun kolaborasi strategis.
“Cita-cita Universitas Alma Ata untuk tumbuh maju sebagai World-Class University bukanlah sekadar slogan, melainkan komitmen nyata untuk menyandingkan standar kualitas global dengan kemanfaatan bagi bangsa dan peradaban dunia,” ujar Prof. Hamam.
Integrasi Nilai GREAT Perkuat Transformasi Pendidikan Berpusat pada Manusia
Dalam arah pengembangan Universitas Alma Ata, Prof. Hamam menekankan bahwa penguasaan AI harus selaras dengan nilai GREAT yang terdiri atas Global-Minded, Research-Driven, Empowering, Adaptive, dan Transformative.
Kelima nilai tersebut menjadi landasan dalam membangun perguruan tinggi yang memiliki wawasan global, mengutamakan penelitian berbasis bukti, memberdayakan sivitas akademika, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta menghasilkan transformasi positif bagi masyarakat dan peradaban.
Integrasi teknologi dengan nilai GREAT juga diarahkan untuk memperkuat pembentukan lulusan berkarakter MUTTAQIN. Karakter tersebut menekankan ketangguhan, penguasaan teknologi, orientasi terhadap mutu, serta kesantunan dalam komunikasi global.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital di lingkungan Universitas Alma Ata tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknologi, tetapi juga pada penguatan kualitas manusia sebagai pusat pengembangan pendidikan.
Penguasaan Teknologi AI Harus Berlandaskan Nilai Keislaman
Selain menekankan pentingnya pengembangan teknologi, Prof. Hamam mengaitkan penguasaan kecerdasan buatan dengan nilai-nilai keislaman yang menjadi landasan pendidikan Universitas Alma Ata.
Ia merujuk Surah Al-‘Alaq mengenai kewajiban belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan berlandaskan ketakwaan kepada Allah SWT.
Prof. Hamam juga mengaitkannya dengan Surah Al-Baqarah ayat 31 tentang kemampuan konseptual dan metodologi ilmiah sebagai bekal kepemimpinan, serta Surah Al-Isra’ ayat 70 mengenai kemuliaan martabat manusia.
“Hari ini, kecerdasan buatan seperti Gemini AI adalah ‘samudra baru’ yang wajib kita kuasai untuk menegakkan martabat ilmu pengetahuan dan menjalankan amanah kekhalifahan di era digital,” ungkapnya.
Pandangan tersebut menempatkan penguasaan teknologi sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus menjaga nilai moral dan kemanusiaan.
Kegiatan Gemini Academy for Higher Education sendiri diselenggarakan melalui dua sesi pelatihan yang diperuntukkan bagi dosen dan tenaga kependidikan serta mahasiswa Universitas Alma Ata.
Kegiatan ini turut dihadiri Nia Andriani bersama tim Paideia Educational Solutions sebagai Google for Education Partner. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap komitmen Universitas Alma Ata dalam memanfaatkan Google Workspace for Education.
Pada kesempatan itu, Prof. Hamam menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara, tim Google dan Gemini AI, serta seluruh keluarga besar Universitas Alma Ata yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk menguasai dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab dengan semangat Bismi Rabbika.
Melalui penguatan nilai GREAT, karakter MUTTAQIN, dan pemanfaatan Gemini AI, Universitas Alma Ata berupaya mewujudkan transformasi pendidikan yang berpusat pada manusia (Human-Centered Future) sebagai bagian dari komitmennya menuju World-Class University yang memberikan manfaat bagi bangsa dan peradaban dunia.