FULL DAY SCHOOL DAN BEBAN MASYARAKAT

FULL DAY SCHOOL DAN BEBAN MASYARAKAT

FULL DAY SCHOOL DAN BEBAN MASYARAKAT

Oleh: Hartati Rahayu, M.Pd.

Dosen PGSD Universitas Alma Ata Yogyakarta

Menurut istilah, full day school ialah sebuah sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh pukul 07.00-17.00. Itu merupakan program sekolah di saat proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah. Dengan kebijakan seperti itu, waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah daripada di rumah. Ketika akhirnya full day school yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mencuat, yang muncul ialah tanggapan beragam dari banyak pihak, baik yang pro maupun kontra. Yang pasti Mendikbud harus berpikir berulang kali untuk menetapkannya sebagai sebuah kebijakan resmi. Tidak lantas memboyong masalah tersebut sebagai keputusan tanpa dasar dan parameter yang kuat.

Memang tak bisa dimungkiri, dalam sejumlah sudut pandang, full day school lumayan bagus. Hanya, jangan lupa, ada beberapa hal perlu dilakukan. “Pertama, kajian terhadap seluruh aspek sebelum diterapkan termasuk melakukan perenungan. Sampai di mana kesiapan guru dalam menyampaikan pelajaran hingga ke substansinya dalam rentang waktu dari pagi hingga petang. Kedua, pertimbangan kondisi fisik guru atau murid”, kata Hartati Rahayu, M.Pd. Dosen PGSD UAA. Mengajar dan belajar dari pagi hingga pukul 17.00 membutuhkan tenaga dan pikiran yang juga harus full. Energi ekstra diperlukan karena tidak seluruh siswa mendapat asupan gizi yang baik. Anak yang memperoleh gizi cukup biasanya lebih tinggi tubuhnya dan relatif lebih cepat mencapai masa puber jika dibandingkan dengan anak yang bergizi kurang. Anak yang sehat dan jarang sakit biasanya mempunyai tubuh sehat dan lebih berat jika dibandingkan dengan anak yang sering sakit.

Yang tak kalah penting ialah kondisi guru yang perlu menjadi perhatian bersama. Kita lihat saja bagaimana hasil uji kompetensi guru (UKG) berdasarkan data Kemendikbud. Jumlah yang mengikuti UKG sebanyak 2.699.516 guru dengan komposisi nilai sesuai dengan jenjang TK 32% kurang dari 55, 67% antara 55 dan 80, dan 1% di atas 80. SD 53% nilainya kurang dari 55, 44% antara 55 dan 80, dan hanya 3% yang di atas 80. Untuk SMP 42% kurang dari 55, 51% antara 55 dan 80, dan 7% di atas 80. Da­ta tersebut menunjukkan kompetensi guru masih perlu ditingkatkan.

3,664 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

5 + five =

1
Silahkan berkirim pesan kepada kami

Saluran ini khusus untuk informasi PMB, Untuk informasi selain PMB silahkan menghubungi Customer Service kami di nomer telepon.
0274-434-22-88
atau silahkan mengakses laman
https://almaata.ac.id/customer-service/
Terimakasih.
Powered by