Bantul – Universitas Alma Ata melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melaksanakan program PURPLE (Puppets for Understanding, Respect, Protection and Learning Sex Education) di SD Negeri Kasihan, Bantul, pada 23–28 Oktober 2025. Program yang didanai Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Diktisaintek ini bertujuan meningkatkan literasi perlindungan diri anak sekaligus mencegah pelecehan seksual melalui pendidikan seks yang ramah anak, berbasis budaya lokal, dan menggunakan pendekatan Project-Based Learning (PjBL).

Kegiatan ini dipimpin oleh Lia Dian Ayuningrum, S.ST., M.Tr.Keb. dari Program Studi Profesi Bidan Universitas Alma Ata sebagai narasumber, bersama tim yang terdiri atas Mufida Awalia Putri, S.Pd., M.Pd., Ramadini Agusti Fajriyani, Dewi Humairo Nailatul Izzah, serta Septian Aji Permana. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang komprehensif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak.

Menjawab Tantangan Rendahnya Literasi Perlindungan Diri Anak

Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak usia sekolah dasar masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama. Di sisi lain, pendidikan seks sejak dini masih sering dianggap sebagai topik yang tabu, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Kondisi tersebut menyebabkan banyak anak belum memahami batasan tubuh, cara melindungi diri, maupun keberanian untuk melaporkan tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual.

Melihat kondisi tersebut, Universitas Alma Ata menghadirkan program PURPLE sebagai solusi edukatif yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan, budaya lokal, dan pembelajaran berbasis proyek agar materi lebih mudah dipahami sekaligus menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.

Menggunakan Media Wayang Kartu dan Pembelajaran Berbasis Proyek

Program PURPLE dilaksanakan melalui metode partisipatif berbasis proyek yang melibatkan guru, siswa, dan pihak sekolah secara aktif. Pelaksanaannya terdiri atas lima tahapan utama, yaitu sosialisasi dan perencanaan bersama mitra, pengembangan serta uji coba media edukatif Wayang Kartu PURPLE, pelatihan dan pendidikan kesehatan bagi guru maupun siswa, pembentukan kelompok pendukung, serta evaluasi untuk memastikan keberlanjutan program.

Sebagai media pembelajaran, tim pengabdian mengembangkan berbagai sarana edukasi yang menarik, meliputi Modul PURPLE yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI), alat peraga Wayang Kartu PURPLE, permainan edukatif berbasis proyek (project games), poster edukasi, hingga video pembelajaran digital. Pemanfaatan media tersebut membuat materi mengenai perlindungan diri lebih mudah dipahami oleh anak-anak melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik usia mereka.

Pengetahuan dan Keberanian Siswa Meningkat Signifikan

Pelaksanaan program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tingkat pengetahuan siswa mengalami peningkatan yang signifikan, dari 33 persen pada pre-test menjadi 83 persen pada post-test.

Tidak hanya dari sisi pengetahuan, perubahan juga terlihat pada aspek sikap dan perilaku. Siswa menjadi lebih berani menyampaikan pendapat, mampu membedakan sentuhan yang aman dan tidak aman, serta memiliki kesadaran yang lebih baik untuk melaporkan kejadian yang tidak semestinya kepada orang dewasa yang dipercaya.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis budaya lokal mampu membantu anak memahami isu perlindungan diri dengan lebih efektif dibandingkan metode penyampaian yang bersifat konvensional.

Membentuk Agen Edukasi Sebaya dan Guru Fasilitator

Sebagai upaya menjaga keberlanjutan program, tim pengabdian membentuk Kelompok “Kami Sahabat” yang berperan sebagai agen edukasi sebaya di lingkungan sekolah. Kelompok ini diharapkan mampu menjadi teman diskusi sekaligus mendorong budaya saling menjaga antar siswa.

Selain itu, dibentuk pula Kelompok Guru Fasilitator PURPLE yang bertugas melanjutkan edukasi perlindungan anak secara berkelanjutan di sekolah. Kehadiran kelompok guru ini menjadi bagian penting agar program tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai dilaksanakan.

Menghasilkan Luaran Akademik dan Media Edukasi Berkelanjutan

Program PURPLE tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi siswa dan sekolah, tetapi juga menghasilkan berbagai luaran akademik maupun media edukasi. Luaran tersebut meliputi peningkatan tingkat keberdayaan mitra, publikasi artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 4, publikasi berita di media massa daring, video edukasi yang dipublikasikan melalui platform digital, serta poster edukasi yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berkelanjutan.

Melalui berbagai luaran tersebut, hasil pengabdian tidak hanya memberikan dampak pada sekolah mitra, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi institusi pendidikan lain dalam mengembangkan program serupa.

Berpotensi Direplikasi di Sekolah Dasar Lain

Keberhasilan program PURPLE menunjukkan bahwa pendidikan pencegahan pelecehan seksual dapat disampaikan secara efektif melalui pendekatan yang humanis, menyenangkan, dan berbasis budaya lokal. Program ini terbukti mampu meningkatkan literasi perlindungan diri anak sekaligus membangun budaya sekolah yang lebih ramah anak.

Dengan hasil yang diperoleh, model PURPLE memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai sekolah dasar lainnya sebagai salah satu inovasi pendidikan yang mendukung upaya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak melalui pemberdayaan masyarakat dan kolaborasi antara sekolah dengan perguruan tinggi.