BANTUL – Pendidikan kesehatan reproduksi menjadi salah satu upaya penting dalam membekali remaja dengan pengetahuan yang tepat untuk menghadapi masa pubertas dan membangun perilaku hidup sehat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata berkolaborasi dengan SMA Negeri 1 Bambanglipuro menyelenggarakan edukasi kesehatan reproduksi bagi ratusan siswa sebagai langkah preventif dalam meningkatkan literasi kesehatan sejak usia sekolah.

Universitas Alma Ata Edukasi 423 Siswa SMA N 1 Bambanglipuro tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

Program Studi Kebidanan Universitas Alma Ata melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja bekerja sama dengan SMA Negeri 1 Bambanglipuro, Bantul. Kegiatan yang berlangsung dalam dua periode, yakni pada 20 Januari 2026 dan 14 Juli 2026, ini diikuti oleh 423 siswa kelas X, XI, dan XII. Program bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta sikap positif remaja terhadap kesehatan reproduksi melalui pendekatan edukatif dan interaktif.

Ketua tim PKM sekaligus narasumber, Fatimatasari, M.Keb., Bd., menjelaskan bahwa edukasi kesehatan reproduksi menjadi bekal penting bagi remaja untuk memahami perubahan fisik dan psikologis yang terjadi selama masa pubertas. Menurutnya, peningkatan literasi kesehatan reproduksi juga merupakan langkah strategis dalam mencegah berbagai perilaku berisiko yang dapat berdampak pada kesehatan maupun masa depan generasi muda.

Kegiatan ini didukung oleh tim dosen lintas program studi Universitas Alma Ata, yaitu Lia Dian Ayuningrum, SST., M.Tr.Keb., Prasetya Lestari, S.ST., M.Kes., Isti Chana Zuliyati, S.ST., M.Keb., R. Jaka Sarwadhanama, S.Kep., Ns., M.P.H., Ns. Imam Akbar, S.Kep., M.Kep., serta melibatkan mahasiswa Program Studi S1 Kebidanan sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

Materi Disesuaikan dengan Kebutuhan Remaja

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh berbagai materi yang relevan dengan perkembangan usia remaja. Topik yang disampaikan meliputi anatomi dan fisiologi sistem reproduksi, tumbuh kembang remaja yang sehat, perilaku seksual berisiko beserta pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS), hingga pentingnya komunikasi efektif dan penetapan batasan dalam pergaulan.

Penyampaian materi tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga dikemas menggunakan metode pembelajaran interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, studi kasus, serta simulasi. Pendekatan tersebut dirancang agar siswa lebih mudah memahami materi sekaligus berani menyampaikan pertanyaan maupun pendapat terkait isu kesehatan reproduksi.

Antusiasme Peserta Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran

Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap sesi. Mereka aktif berpartisipasi dalam diskusi, mengajukan pertanyaan, serta terlibat dalam berbagai simulasi yang diberikan oleh tim pengabdian.

Evaluasi melalui pre-test dan post-test memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai perubahan pada masa pubertas, kesehatan reproduksi, perilaku seksual berisiko, pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS), serta pentingnya menjaga batasan dalam hubungan sosial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang interaktif mampu meningkatkan pemahaman sekaligus kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Komitmen Universitas Alma Ata Wujudkan Edukasi Berkelanjutan

Program PKM ini dinilai berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi. Selain memberikan manfaat langsung kepada peserta didik, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara Universitas Alma Ata dan SMA Negeri 1 Bambanglipuro dalam mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang peduli terhadap kesehatan remaja.

Sebagai tindak lanjut, Universitas Alma Ata bersama pihak sekolah berkomitmen untuk melaksanakan program edukasi kesehatan reproduksi secara berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan bagi guru, pendampingan, monitoring, dan evaluasi berkala sehingga materi kesehatan reproduksi dapat terintegrasi dalam kegiatan sekolah secara mandiri, berkesinambungan, dan memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik.