Kisah Inspiratif Wisudawan Terbaik Angkatan Pertama Prodi S1 Ilmu Gizi, Aktivis Organisasi sekaligus
Perintis Berdirinya HIMAGI Universitas Alma Ata

Kisah Inspiratif Wisudawan Terbaik Angkatan Pertama Prodi S1 Ilmu Gizi, Aktivis Organisasi sekaligus Perintis Berdirinya HIMAGI Universitas Alma Ata

Program Studi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata didirikan pada tahun 2012. Sebagai angkatan pertama tentu bukan merupakan hal yang mudah, namun bukan berarti kesulitan itu dapat mematahkan semangat para mahasiswanya. Berbekal tekad dan semangat yang kuat, mereka mulai mendalami Ilmu Gizi di Universitas Alma Ata.

Zulfatun Ni’mah, S.Gz berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik angkatan pertama. “Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Saya sendiri telah membuktikannya dengan semua proses yang telah saya lalui di Universitas Alma Ata. Awalnya saya tidak menyangka akan mengenyam pendidikan di Prodi S1 Ilmu Gizi. Rasa pesimis sempat saya rasakan karena saya merupakan angkatan pertama, tidak ada kakak tingkat yang bisa saya jadikan contoh atau hanya sekedar bertukar informasi. Semua benar-benar mandiri, beruntung dosen-dosen selalu mensupport angkatan sulung Prodi S1 Ilmu Gizi ini. Di saat semangat kami mulai padam, beliau lah yang memompa semangat kami kembali. Saya ingat sekali pesan salah satu dosen: Belajar dimanapun sama saja, asalkan kita bersungguh-sungguh, kita pasti bisa karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” ujar dara yang kerap disapa Zulfa ini.

Himpunan Mahasiswa Gizi (HIMAGI) sendiri didirikan pada tahun 2013, saat Zulfa resmi menjadi mahasiswa di Universitas Alma Ata. “Benar-benar sebuah perjuangan di awal mendirikan sebuah organisasi. Saya dipercaya oleh dosen dan teman-teman untuk menjadi ketua HIMAGI, siap tidak siap saya harus mampu mengemban amanah ini. Walau pertama kali berdiri tapi Alhamdulillah kami bisa ikut berpartisipasi dalam acara besar Hari Gizi Nasional (HGN) tahun 2013 bersama dengan mahasiswa gizi dari universitas lain di Jogja,” ujar Zulfa.

Selain HIMAGI, Zulfa juga aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masa bakti 2013/2014 sebagai Wakil Ketua. “Alasan saya aktif di organisasi dan kegiatan kampus karena saya fikir akan membosankan jika kita ke kampus hanya untuk mengikuti jam perkuliahan, saya tidak mau diberi julukan mahasiswa “Kupu-Kupu” yang merupakan singkatan dari mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang. Selain menambah pengalaman dan banyak teman, aktif di organisasi dan kegiatan kampus juga akan bermanfaat ketika kita lulus, baik di dunia kerja maupun di masyarakat. Karena kita akan terbiasa dan memahami bagaimana caranya berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain serta akan mengerti bagaimana caranya memimpin dan dipimpin,” terangnya.

Setelah 4 tahun menimba ilmu di Program Studi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata, Zulfa berhasil lulus dan menjadi mahasiswa lulusan terbaik dengan IPK 3,86. “Bahagia dan tangis haru saya rasakan ketika saya juga diminta untuk memberi sambutan perwakilan mahasiswa di podium. Akhirnya saya dapat membuat orang tua saya menangis bahagia. Segala yang saya peroleh sampai saat ini tidak terlepas dari kerja keras, kesabaran, kasih sayang dan doa orang tua. Terima kasih karena tidak henti-hentinya memberikan support baik moral, spiritual maupun materi. Orang tua lah alasan saya untuk terus bertahan dan berjuang. Sungguh, keberhasilan yang saya peroleh, saya khususkan untuk orang tua saya. Yang saya selalu ingat dikala semangat saya sedang turun adalah pesan orang tua saya yaitu “Percayalah nak, tidak ada kerja keras yang akan mengkhianati hasil, kunci utamanya adalah sabar dan ikhlas”. Pesan inilah yang bisa membuat saya bangkit dan kembali bersemangat untuk berjuang,” ujar dara kelahiran Tegal, 3 Mei 1994.
Selama kuliah Zulfa terus mengembangkan ilmunya di luar kegiatan kampus. Zulfa sering menghadiri berbagai seminar di bidang gizi, mendampingi dosen yang bertugas dalam kegiatan pengabdian masyarakat sebagai asisten konselor gizi, dan berpartisipasi di berbagai penelitian gizi sebagai enumerator. Saat ini Zulfa tengah mengembangkan karirnya di Universitas Alma Ata, tepatnya di unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) dan sebagai asisten dosen untuk beberapa mata kuliah. “Puji syukur Alhamdulillah setelah lulus saya langsung diminta bekerja di Universitas Alma Ata. Benar-benar seperti mimpi ketika saya berada di kelas bukan sebagai mahasiswa melainkan sebagai asisten dosen. Kedua pekerjaan yang saya jalani saat ini adalah jenis pekerjaan yang harus bertemu dengan orang banyak. Kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim merupakan manfaat langsung yang saya rasakan buah dari keaktifan organisasi dan berbagai kegiatan kampus yang sering saya ikuti saat dulu menjadi mahasiswa,” ujarnya.
Mimpinya ke depan tentu masih panjang, salah satunya adalah keinginan untuk terus dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya ingin berbagi tips sedikit supaya kita selalu terpacu dalam menggapai impian kita, mulai sekarang buatlah list 100 target atau impian yang ingin kita capai dan tempel di dinding kamar atau di tempat yang sekiranya selalu kita lewati. Saya juga melakukannya, awalnya memang terkesan tidak masuk akal dan tidak jarang teman-teman saya yang membacanya juga meledek saya, tapi Alhamdulillah beberapa dari list target atau impian saya sudah saya coret karena alhamdulillah sudah berhasil saya capai. Serius deh, tidak ada yang tidak mungkin, asal kita mau berusaha. Semoga cerita saya ini menginspirasi,” tutupnya.

1,945 kali dilihat, 29 kali dilihat hari ini